Sejarah Pacuan Kuda Tradisional di Gayo

Pacu kuda di Gayo Lues, Sabtu 31 Agustus 2013. (Kha A Zaghlul)

Pacu kuda di Gayo Lues, Sabtu 31 Agustus 2013. (Kha A Zaghlul)

Oleh: Khalisuddin*

Penyelenggaraan even Pacu Kude (Kuda-red) di Gayo selalu ditunggu-tunggu baik oleh warga setempat maupun warga kabupaten di sekitarnya.

Sejak beberapa tahun belakangan ini, di dataran tinggi Gayo even ini digelar 4 kali dalam setahunnya, masing-masing 2 kali di kabupaten Aceh Tengah, dan 1 kali di Kabupaten Bener Meriah dan Gayo Lues. Pesertanya pun kian lama semakin bertambah dan kualitas perlombaan juga semakin baik, sayangnya nilai ke-tradisional-an pacu kude kian memudar disebabkan oleh beberapa faktor teknis dan non teknis.

Dalam beberapa catatan sejarah serta dari cerita mulut ke mulut, pacu kude di Gayo dimulai dari Bintang, kemukiman paling timur danau Lut Tawar Aceh Tengah. Mengutip dari buku Pacu Kude; Permainan Tradisional di Dataran Tinggi Gayo yang di tulis Piet Rusydi dari Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Banda Aceh tahun 2011, pacu kude pertama-tama digelar sekitar tahun 1850 dengan arena pacuan melintasi Wekef hingga Menye berjarak lebih kurang 1,5 kilometer, rutenya memanjang, bukan memutar seperti saat ini. Saat itu, pacu kude diselenggarakan saat luah berume atau lues belang (setelah panen padi-red).

Sebelum Urang Gayo mengenal sarana transportasi moderen, kuda memiliki peran penting dalam banyak hal di Gayo terutama sebagai sarana transportasi barang dan manusia serta kegiatan olah tanah di sawah.

Selanjutnya menurut AR. Hakim Aman Pinan dalam bukunya Pesona Tanoh Gayo, menyatakan pacu kude di pante Menye Bintang diselenggarakan saat pagi dan sore hari, setelah ashar. Satu sisi line pacuan dibatasi dengan air danau Lut Tawar dan sisi lainnya (timur) dengan pagar Geluni. Saat itu joki tidak dibenarkan memakai baju alias telanjang dada.

Saat itu tidak ada disediakan hadiah, para pemenang hanya memperoleh “Gah” atau nama besar (marwah-red). Biasanya, pacu kude dilanjutkan dengan perayaan atau syukuran luah munoling (paska panen padi) yang biayanya diperoleh dengan berpegenapen (saling menyumbang biaya dan perlengkapan lainnya).

Versi lainnya, menurut ditulis Piet Rusydi, pacu kude adalah kegiatan iseng para pemuda setelah munoling (panen padi) khususnya di Bintang. Kuda-kuda yang berkeliaran saat Lues Belang ditangkap dengan opoh kerung (kain sarung-red) dan di pacu. Tradisi ini tanpa disadari dijadikan even tetap mulai tahun 1930 yang melibatkan kuda-kuda serta joki dari beberapa kampung.

Karena masyarakat Gayo sangat antusias menyaksikan pacu kude ini, sebelumnya di tahun 1912 penjajah Belanda melihat menggelar pacu kude di Takengon dengan lintasan lurus sepanjang jalan depan Rumah Sakit lama (Kampus STAIN Gajah Putih sekarang) hingga Tan Saril. Namun karena membahayakan warga, pacu kude kemudian dipindahkan ke lapangan Belang Kolak yang kemudian bernama Gelengang Musara Alun, lintasan pacu kude berubah menjadi oval, diberi pagar pembatas berupa tersik (tonggak kayu) serta radang(sejenis rotan).

Menurut Almarhum Tgk. H. M. Ali Salwani yang dinyatakan kepada salah seorang mahasiswa Universitas Abulyatama Aceh Besar, Muhammad (1996) dalam laporan penelitian yang berjudul Eksistensi Olahraga Pacuan Kuda Tradisional di Kabupaten Aceh Tengah Tahun 1995, even ini di gelar Belanda untuk memeriahkan ulang tahun Ratu Belanda, Wilhelmina setiap tanggal 31 Agustus.

Dari sumber lain, saat itu mulai disediakan hadiah berupa piagam dan jam Beker (Weker).Karena hadiahnya Beker sebutan kuda pemenang hingga saat ini masih disebut kuda Beker alias kuda kuda juara. Uniknya, jika kuda betina yang memperoleh juara maka dinamakan sebagai Kude Dompet, tidak jelas kapan istilah ini muncul.

Saat penjajahan Jepang, satu versi menyatakan tetap ada even pacu kude seperti dituturkan  mantan Juru Penerang (Jupen) Kabupaten Aceh Tengah, Abd. Majid. Tapi versi lain menyatakan tidak pernah diselenggarakan karena saat itu tentara Jepang mengambil alih kepemilikan kuda sebagai sarana transportasi mereka. Selain itu, masyarakat Gayo sangat menderita saat itu, bahkan pakaian yang dikenakanpun dibuat dari kulit kayu dan goni.

Kelas atau kategori perlombaan saat itu hanya dikenal tiga kelas yakni kelas kuda muda (usia 2-4 tahun), kuda dewasa (4-6 tahun) dan kelas kuda tua (berusia diatas 6 tahun), jantan dan betina. Lintasan pacu bagi kuda muda berjarak satu  keliling (putaran) lapangan Musara Alun (lebih kurang 1 kilometer), kuda dewasa 2 keliling dan kuda tua sejauh 3 kali keliling.

Dulu, menentukan kategori pacu untuk seekor kuda tidak terlalu rumit dan langka terjadi percekcokan, selain jumlah kuda peserta masih terbilang sedikit juga faktor kejujuran dan kebersamaan para pemilik kuda lebih dikedepankan ketimbang menjadi juara.

Paska kemerdekaan RI, mulai tahun 1950 pacu kude juga sempat digelar oleh masyarakat, saat itu kuda-kuda dari Bintang, Kenawat, Pegasing dan Kebayakan yang paling aktif ikut serta. Bahkan saking antusiasnya warga dan peserta pacu kude dari Kenawat, di Gelengang Musara Alun sempat ada nama tempat yang agak tinggi dibanding bagian lapangan lainnya dinamakan “Buntul Kenawat”, di lokasi ini berkumpul kuda-kuda, joki dan pendukung dari Kenawat.

Seiring dengan terbentuknya kabupaten Aceh Tengah tahun 1956, penyalenggaraan even pacu kude diambil alih oleh Pemerintah Aceh Tengah.

Penyelengaraan pacu kude terus berlanjut yang digelar dalam memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam sejarahnya, pacu kude Gayo sempat di gelar selain memperingati HUT RI yakni pada bulan Maret tahun 1992 yang digagas oleh Dandim 0106 Aceh Tengah.

Pacu kude Gayo juga sempat diselenggarakan di Banda Aceh di tahun 1994, persisnya di lapangan Jeulingke Banda Aceh. Saat itu, tokoh masyarakat Gayo, Husni Darma menjabat sebagai Pimpinan Proyek (Pimpro) di Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Aceh.

Saat bupati Aceh Tengah di jabat oleh Drs. Buchari Ishaq, persisnya di tahun 1995 melalui Dinas Peternakan mengglirkan program peningkatan kualitas kuda pacu dengan mendatang bibit kuda pejantan dari Padang Sumatera Barat yang kemudian juga kuda-kuda pejantan dari Australia. Keturunan dari kuda-kuda hasil kawin silang ini kemudian dikenal dengan nama kuda Astaga atau kuda blasteran Australia-Gayo yang ciri-ciri posturnya lebih tinggi dan larinya lebih cepat.

Karena pengunjung pacu kude semakin banyak, Gelengang Musara Alun dinilai tidak cocok lagi sebagai tempat penyelenggaraannya. Dan saat bupati Aceh Tengah dijabat Drs. H. Mustafa M. Tamy dengan persetujuan masyarakat dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), di tahun 2002 penyelenggaraan pacu kude dipindahkan ke Pegasing, persisnya di Lapangan H. Muhammad Hasan Gayo Belang Bebangka.

Seiring dengan pemindahan arena pacu kude ini, kuda peserta juga semakin meluas, sebelumnya hanya seputar Aceh Tengah, termasuk kabupaten Bener Meriah sebelum dimekarkan dan dari kabupaten Gayo Lues yang dalam sejarahnya telah mengenal pacu kude sejak tahun 1936.

Penyelenggaraan pacu kude di Takengon Kabupaten Aceh Tengah semakin diminati, bukan saja oleh warga setempat namun dari pesisir Aceh, Sumatera Utara bahkan mancanegara. Even ini menjadi salah satu even di Aceh yang paling diminati wisatawan. Dan setelah ditetapkannya Hari Jadi Kota Takengon itu pada 17 Februari 1577 oleh DPRK Aceh Tengah dengan  Qanun Kabupaten Aceh Tengah nomor 10 tahun 2010 penyelenggaraan pacu kude sejak tahun 2011 menjadi 2 kali dalam setahun, memperingati HUT Kemerdekaan RI di bulan Agustus dan memperingati HUT Kota Takengon di bulan Februari.

Kabupaten Bener Meriah yang dimekarkan dari Kabupaten Aceh Tengah pada tahun 2005 juga mulai menggelar even ini sejak tahun 2006 di lapangan Sengeda yang berlokasi di kaki Burni Telong  berdekatan dengan Bandar Udara (Bandara) Rembele dibangun saat Ir. Tagore Abubakar sebagai Bupati. Di Bener Meriah, pacu kude digelar dalam memperingati Hari Jadi Kabupaten yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 7 Januari 2004.

Sementara di Kabupaten Gayo Lues yang dimekarkan dari Aceh Tenggara dengan Dasar Hukum UU No.4 Tahun 2002 pada tanggal 10 April 2002 juga menggelar pacu kude dalam memperingati Hari Jadi kabupaten tersebut atau memperingati HUT Kemerdekaan RI sejak tahun 2009 yang pertama digelar di Buntul Tajuk dan sejak tahun 2010 pacu kude mulai digelar di lapangan Buntul Nege setelah dipandang layak digunakan.

Ada satu yang selalu terngiang di telinga  warga Gayo saat digelarnya Pacu Kude, yakni teriakan panjang saat kuda dilepas (start) oleh Master of Ceremony (MC), “wasaluaaaaaleeeeeeeee”itulah pekikan khas jika kuda sedang berlari berpacu menuju garis finish. Pekikan ini, tanpa disadari juga sebagai aba-aba bagi pengunjung untuk tidak lalu lalang di arena pacu kude.

Aturan teknis pacu kude juga tak lepas dari dinamika sesuai perkembangan zaman. Dulu cara start pacu kude hanya dengan selembar bendera yang diikuti dengan aba-aba “lepas”. Kuda yang akan berpacu dipegang oleh satu orang dan satu orang lainnya masing-masing berada dibelakang kuda untuk menghalau atau memecut kuda agar berlari. Metode start ini kerap menjadi biang keributan antar pemilik dan joki sehingga pada tahun 2012 Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah melalui Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga mulai memakai Starting Gate sebagai alat melepas kuda pacu. Sejak dipakainya alat ini, nyaris tidak terdengar lagi keributan.

Seiring dengan makin berkualitasnya kuda pacu, para joki juga mulai memakai pelana dan alat keamanan lainnya saat memacu kuda. Pelana ini umumnya dipakai pada kuda-kuda yang bertanding di kelas A, bukan di kuda lokal.

Banyak “ter” nya
Pacu kude di Gayo menurut Pengurus Besar Persatua Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PB-PORDASI), yang berkunjung ke Takengon saat pacu kude bulan Nopember 2013, Drh. Sridadi Wiryosuhano paling banyak “ter”nya di Indonesia.

Pacu Kude Gayo itu “terunik” karena ketentuan pacuan berdasarkan tinggi badan dan umur kuda sementara di aturan PORDASI itu tidak dikenal. Selanjutnya “terbanyak” pesertanya yakni tidak kurang dari 300 ekor kuda sementara di even lain di Indonesia hanya beberapa ekor kuda saja. Lalu “terbanyak” penontonnya, didaerah lain di Indonesia tidak ada even pacu kuda yang menyedot puluhan ribu orang.

Selanjutnya “terbahaya” karena umumnya para joki tidak dilengkapi dengan peralatan pengaman seperti pelana, helm, kacamata dan sepatu. Selain itu penonton juga bisa dengan leluasa masuk ke lintasan pacu saat kuda sedang berlari kencang. tercatat beberapa kali terjadi kecelakaan baik menimpa joki maupun pengunjung bahkan beberapa diantaranya hingga meninggal dunia terlindas kuda.

Prangko tahun 2014
Ketenaran pacu kude Gayo memang tak diragukan lagi, pada tahun 2014 pihak Kementerian Komunikasi dan Informatika menerbitkan prangko seri tahun kuda yang diterbitkan pada tanggal 10 Januari  2014. Pacu Kude tradisional Gayo menjadi satu dari tiga buah desain (kuda Sumbawa dan kuda lumping) menjadi objek utama prangko yang di launching PT Pos Indonesia (Persero) dan Lembaga Indonesia China (LIC) di Kantor Filateli Jakarta pada tanggal 25 Februari 2014. []

*Warga Pegasing Takengon Aceh Tengah

Referensi : 
AR. Hakim Aman Pinan, Pesona Tanoh Gayo, Takengon, 2013
Piet Rusdi, Pacu Kude: Permainan Tradisional di Dataran Tinggi Gayo, Balai Pelestarian dan Nilai Tradisional Banda Aceh, 2011
Muhammad, Laporan Penelitian Eksistensi Olahraga Pacuan Kuda Tradisional di Kabupaten Aceh Tengah, Universitas Abulyatama, 1995
Kata PB PORDASI Pacu Kuda Gayo Paling “Ter” di Indonesia | Media Online Dataran Tinggi GAYO | www.lintasgayo.co
Pacuan kuda tradisional Gayo jadi prangko seri tahun kuda 2014 | Media Online Dataran Tinggi GAYO | www.lintasgayo.co

Loading Facebook Comments ...

Tinggalkan Balasan

Translate »
×