“Papan Tulis” Penyemangat Penari Saman

Foto: Kha A Zaghlul

Foto: Kha A Zaghlul

TARI Saman yang menjadi kebanggaan masyarakat Gayo Lues memiliki banyak cerita. Disamping gerakan yang energik, filosofi dan makna yang mengesankan, ternyata masih banyak lagi keunikan-keunikan yang belum sepenuhnya diketahui oleh masyarakat. Meskipun tari saman kini telah dinyatakan menjadi salah satu budaya warisan dunia.

Mungkin selama ini masyarakat di luar Kabupaten Gayo Lues hanya mengenal saman melalui penampilan aski panggung. Artinya penonton hanya menyerap gerakan, lirik atau syair-syair yang dilantunkan.

Padahal kedasyatan menceritakan saman bukan saja mengenai aksi di atas panggung, masih banyak lagi. Seperti bejamu saman (pagelaran saman dengan mengundang tamu dari desa lain, Gayo: Red), emosional, hukum berserinen (Peraturan bersaudara dalam saman), serta istilah
“papan tulis” dalam budaya bejamu saman.

Bejamu saman adalah budaya masyarakat Gayo Lues ketika satu desa menggelar saman sara ingi (Saman semalam suntuk) atau saman roa lo roa ingi (Dua hari dua malam). Pada pagelaran itu, masyarakat desa penggelar saman yang menjadi sukut (Tuan rumah) akan mengundang desa lain yang berperan sebagai jamu (Tamu). Tamu yang diundang adalah seluruh laki-laki baik anak-anak, remaja hingga para orang tua.

Tamu yang datang akan disambut dengan hormat serta sejumlah rangkaian adat oleh pihak desa penggelar acara. Setelah itu, masing-masing laki-laki di desa penggelar acara wajib mengajak satu orang atau lebih tamu yang datang untuk difasilitasi dan menanggung seluruh kebutuhan tamu selama acara, termasuk memberi selpah (hadiah) saat tamunya pulang usai acara. Hadiah yang diberikan bermacam-macam, bisa berupa rempah-rempah, pakaian kerawang, bahkan seekor hewan ternak. Ini tergantung dari kemampuan serinennya dan sifatnya tidak
terpaksa.

Pada bulan selanjutnya, perlakuan itu akan di balas pada saat desa yang menjadi tamu sebelumnya menjadi tuan rumah. Ini biasa disebut Saman bebeles (Saman berbalas). Masyarakat desa yang sebelumnya menjadi tamu akan memberikan perlakuan balik ke pada serinennya sebelumnya.

Hal yang paling mencengangkan adalah, ikatan yang dibangun melalui saman bukan hanya sekedar saudara biasa, namun sauadara yang mereka dapat dalam pagelaran saman tersebut akan diperlakukan sama seperti saudara kandung sendiri oleh seluruh keluarga. Jika berkhianat, masyarakat setempat percaya bahwa orang yang menghianati serinennya akan menerima hukuman yakni tulang tubuhnya akan berubah menjadi hitam (hangus) ketika
meninggal kelak.

Selain itu, jika sudah menjadi serinen, hukumnya bukan sementara, namun berlanjut hingga anak cucu mereka. Menakjubkan!! Bayangkan saja jika satu desa menggelar saman dua kali saja dalam setahun, berapa serinen yang mereka dapat.

Hal unik lainnya adalah istilah papan tulis dalam budaya saman. Umumnya papan tulis merupakan sebuah alat tulis berbahan triplek untuk digunakan sebagai bahan mengajar. Namun dalam istilah di lingkungan para remaja dalam kebiasaan pagelaran saman, papan tulis erupakan para gadis penari bines yang merupakan tarian tradisional berasal dari Gayo Lues.

Para papan tulis ini (gadis-gadis) yang lengkap dengan pakaian tari binesnya akan diberikan kursi khusus dibelakang para pria penari saman. Tugasnya antara lain nyaur (Bersorak memberi semangat) mendukung kelompok penari saman desa asalnya. Selain itu, para papan tulis ini juga ikut membantu mengipas para penari saman pada saat-saat tertentu. Tentu saja semua kebiasaannya tetap dalam bingkai syariat islam, mulai dari tempat duduk mereka yang khusus bagi para wanita dan Ibu-ibu, pakaian, serta kebiasaan lain dalam proses saman berlangsung tetap dalam ranah aturan agama.

Begitulah sedikit dari banyaknya cerita saman yang belum tergali. Bermacam keunikan pada budaya tari saman ini belum sepenuhnya diketahui oleh orang banyak, tentu saja ini perlu waktu dan usaha yang bertahap. Ini menjadi tantangan bagi para pemuda Gayo Lues untuk lebih menggali lagi bagaimana hebatnya cerita keunikan rumah yang merek punya yakni Negeri Seribu Bukit ini. (Supri Ariu)

Loading Facebook Comments ...

Tinggalkan Balasan

Translate »
×