Nikmatnya Gutel Gayo

Gutel (Sumber: Takengon Tourism)

Gutel (Sumber: Takengon Tourism)

GUTEL merupakan salah satu kudapan Gayo. Bahan baku pembuatan Gutel adalah tepung beras, kelapa, gula dan air. Cara pembuatannya juga sederhana. Cukup dengan mencampurkan semua bahan lalu beri sedikit air kemudian mulai di gumpal Selanjutnya di gulung dengan daun pandan.

Konon, menurut warga Gayo Takengon, Anan Jemiah (76) dulu Gutel sebagai penganan untuk menahan lapar ketika musim berume (bersawah). Ketika musim ke sawah juga ada berbagai jenis kudapan yang dibuat oleh masyarakat Gayo tergantung pada keberadaan bahan bakunya.

Ketika musim sawah dimulai umumnya masyarakat membuat Gutel dan ketika padi telah di panen gegaluh-pun digantikan oleh Temping (kudapan khas Gayo yang dibuat dari beras yang dipipihkan).

Selain itu, Gutel juga kerap dijadikan sebagai bekal makanan saat bepergian kedalam hutan untuk berburu atau mencari sesuatu yang membutuhkan waktu hingga berhari-hari. Dulunya orang Gayo saat belum mengenal kenderaan bermotor saat melakukan perjalanan ke pesisir atau ke tempat lain yang melintasi hutan juga dibekali Gutel. Termasuk saat akan berperang gerilya melawan penjajah Belanda dan Jepang.

Juga saat pemberontakan DI/TII yang dipimpin Tgk. Ilyas Leube yang bergerilya keluar masuk hutan. Mereka kerap dibekali keluarga dan warga kampung dilintasi dengan memberikan Gutel.

Dikisahkan, kerap para gerilyawan menangis saat menerima kiriman atau hendak mengkonsumsi Gutel karena ingat keluarga terlebih saat memperhatikan bekas cengkeraman jari tangan sang pembuatnya.

Di gayo, Gutel sering dikaitkan dengan kata “del” yang maksudnya padat. Entah bagaimana kisahnya jika orang Gayo menyebut ‘Gutel Del” maka merupakan kalimat sindiran yang maksudnya adalah bodoh alias dungu.

Yang membuat Gutel ini menarik adalah karena pembuatannya yang di kemul (digumpalkan dengan kekuatan jari telanjang sekuat-kuatnya). Tingkat kelezatan Gutel terletak pada tingkat kecintaan kita pada si pembuatnya. Tak percaya? Silahkan di coba.

(Zuhra Ruhmi, Kha A Zaghlul)

Loading Facebook Comments ...

Tinggalkan Balasan

Translate »
×