‘Kulem Perurumen’ Media Hablumminannas Warga Gayo Lues

Penulis: Muhammad Amin*

Kru Media Nasional Trans 7 dalam Program Jejak Petualang saat ikut dalam kegiatan Kulem Perurumen di Tetingi, Kab. Gayo Lues (Foto: Dian)

Kru Media Nasional Trans 7 dalam Program Jejak Petualang saat ikut dalam kegiatan Kulem Perurumen di Tetingi, Kab. Gayo Lues (Foto: Dian)

GAYO dikenal memiliki kekayaan budaya yang tinggi sarat filosofi pesan sosial. Bagi masyarakat Gayo, khususnya di Gayo Lues momen saling bersilaturrahmi antar sesama tidak hanya di hari raya Idul Fitri atau Idul Adha namun juga ada tradisi Kulem Perurumen, satu sebutan masyarakat Gayo Lues untuk kolam ikan milik bersama.

Secara bahasa “kulem” artinya kolam, dan “perurumen” berasal dari kata “urum” yang artinya bersama. Suku Bangsa Gayo dikenal kaya bahasa dan kata kolam juga ada beberapa sebutan lainnya. Ada yang menyebutnya “nin” yang juga berarti kolam, atau boleh juga “tamak” juga bermakna kolam. Tergantung desa dan kebiasaan masyarakatnya.

Kulem perurumen yang dimaksud disini adalah dimiliki oleh sekelompok warga desa atau kampung, baik seluruh masyarakat kampung, atau satu belah (bagian-bagian terkecil dari kampong-red), atau boleh juga yang hanya milik kelompok keluarga tertentu saja.

Di Gayo Lues, kabupaten yang berjuluk Negeri Seribu Bukit, seperti tari Saman yang sudah diakui oleh badan dunia UNESCO sebagai warisan budaya dunia tak benda pada 24 November 2011 lalu, keberadaan Kulem Perurumen menjadi salah satu wadah atau media hablumminannas yang digunakan untuk menjalin kebersamaan, persatuan dan kesatuan.

Kegiatan di Kulem Perurumen sudah menjadi budaya turun-temurun warga Gayo Lues warisan endatu. Kolam yang digunakan berukuran luas yang jauh lebih luas dari kolam-kolam milik pribadi masyarakat.

Uniknya, eksistensi Kulem Perurumen yang dijadikan sebagai tempat budidaya ikan sangat jauh dari kepentingan ekonomi seseorang atau kelompok. Namun masyarakat Gayo Lues memaksudkan Kulem Perurumen sebagai mediator jalinan mempererat persaudaraan dan membangun kebersamaan. Bagaimana tidak, kolam ini di tebar benih ikannya, dijaga dan di panen secara bersama oleh masyarakat dengan waktu yang ditentukan bersama. Tujuannya adalah untuk menetralkan kembali jika hubungan silaturrahmi antar sesama warga yang sempat rusak, misalnya karena kesalahfahaman, perselisihan, dan lain-lain. Semua itu akan kembali normal dengan adanya budaya ini.

Yang lebih unik lagi adalah ketika ikan di kolam tersebut akan dibuka (di panen-red), bukanlah sembarangan memilih hari pemanenan, akan tetapi dilakukan pada saat-saat hari besar keagamaan, memperingati maulid Nabi Muhammad SAW atau Isra’ Mi’raj dan lain-lain.

Bukan hanya itu, pada saat kolam dibuka, semua warga mulai dari anak kecil sampai kakek-kakek akan berduyun-duyun hadir ke kolam tersebut dengan membawa alat-alat penangkap ikan dan alat memasak serta bumbu-bumbu.

Sebelumnya, Pengulu Kampung (Gecik-red) dan Tetua adat dan agama menugaskan tim untuk membuka kolam. Ada yang sampai seminggu air kolamnya baru kering, tergantung besar-kecilnya kolam. Setelah airnya kering barulah Pengulu Kampung atau kepala dusun memerintahkan warga untuk masuk ke dalam kolam secara bersama-sama. Artinya, tidak ada yang masuk ke kolam lebih awal, semuanya harus berbarengan atau serentak masuk.

Biasanya sebelum acara menangkap ikan (masuk ke kolam), Pengulu Kampung memberikan semacam sambutan dan berbagai informasi penting tentang desa, atau tausyiah dari pemuka agama. Setelah itu baru dipersilahkan semua warga masuk ke Kulem Perurumen.

Saat-saat inilah yang ditunggu-tunggu oleh warga, semua warga yang sudah menunggu akhirnya bebas masuk kedalam kolam. Bisa dibayangkan, saat-saat yang sangat menyenangkan. Semua berusaha mendapatkan ikan, namun tidak ada rasa ingin lebih cepat dan lebih banyak dapat ikan. Namun, saat-saat semua badan tercebur ke dalam genangan air berlumpur adalah sebuah kepuasan tersendiri setiap warga yang telah hadir untuk kegiatan ini.

Suasana ini melepaskan semua sifat iri hati, sombong, dengki terhadap sesama yang dalam kehidupan masyarakat sering terjadi. Dampaknya terbangun rasa kebersamaan, rasa menyayangi, rasa semua adalah satu keluarga, keluarga dalam ikatan iman dan Islam. Begitulah kental dan sinkronnya kehidupan adat Gayo Lues dan agama Islam.

Alat-alat penangkap ikan yang dibawa warga saat panen ikan di Kulem Perurumen paling banyak adalah “gedegem” atau umum dikenal dengan istilah “Saok”. Alat ini berbentuk kerucut yang terpancung.

Setelah selesai menangkap ikan, ada sebagian warga memasak hasil tangkapan di pinggir kolam dan makan bersama, dan ada juga yang langsung membawa hasil tangkapan pulang ke rumah.

Kesimpulan penulis, penting dan patut diapresiasi ide gemilang orang-orang tua terdahulu oleh generasi muda sekarang, bukan dengan piagam dan penghargaan lainnya, namun dengan melestarikannya.

Ide penulisan Kulem Perurumen ini penulis dapatkan setelah melihat postingan seorang siswa di jejaring sosial facebook yang menampilakn foto-foto momen saat pembukaan/panen Kulem Perurumen di  desa Tampeng kecamatan Kutapanjang, Kabupaten Gayo Lues. Tradisi ini perlu dilestarikan oleh masyarakat Gayo Lues dan Gayo umumnya karena makna dan nilai yang terkandung didalamnya sangat bernilai.

Penulis juga pernah mengikuti acara tersebut di desa Penosan, kecamatan Blangjerango, Gayo Lues yang memiliki 2 lokasi Kulem Perurumen, lokasi pertama di Buah Seri dan satu lagi di kawasan perkebunan Tedet Bur Lintang desa Penosan. Sedangkan untuk masing-masing desa lainnya belum ada data yang jelas. Tapi, rata-rata desa tua atau bukan desa pemekaran memiliki Kulem Perurumen.

Ada kekhawatiran jika budaya yang kaya pesan sosial seperti ini perlahan dilupakan masyarakat Gayo mengingat banyaknya pengaruh budaya luar dan modernisasi. Kolam Berawang Lopah dan Berawang Tasik misalnya, dulu merupakan Kulem Perurumen warga desa Peparik Gaib, Kecamatan Blangjerango namun kini telah menjadi tempat wisata yang cukup populer di Negeri asal muasal tari Saman yang kian mendunia, Kabupaten Gayo Lues. [LintasGayo.co]

Kulem Perurumen. (Foto : ist)

Kulem Perurumen. (Foto : ist)

Loading Facebook Comments ...

Tinggalkan Balasan

Translate »
×