Ini Tiga Puisi HUT Gayo Lues Kiriman Warga

IMG_20170311_172359_320

“Puisi Gayo Lues”

Gayo lues itu namamu
Begitu Asing kudengar
Karena kau baru lahir masa itu
15 tahun yang lalu

Ku dekati kau karena keasrianmu…
Begitu anggun pribadimu
Yang terbalut gaun hijau bak putri di tubuhmu
Itulah Hutanmu…

Tegas berdiri kokoh dalam barisan
Di kerajaan petinggimu
Itulah julukanmu oke
Negeri Seribu Bukit

Namun penuh misteri
Jauh di dalam jantung nadimu
Itulah jurang-jurangmu…

Dengan aliran darahmu
Yang mengalir begitu bening dan sejuk
Itulah sungaimu,
sesejuk wajahmu yg selalu segar
Di dalam ingatanku

Dan kau selalu membuat setiap yang memandangmu selalu tersenyum mengagumimu
Seperti senyumku saat memandangmu

Seumpama berlian yang gemerlapan dimalam hari
Itulah wajahmu kini
Itulah kotamu kini
Dengan namamu
Gayo Lues

Semoga engkau tetap abadi dan selalu dirindukan
Perjalananmu masih panjang
Majulah, kini usiamu 15 tahun
Teruslah melangkah dan
Maju Gayo Luesku tercinta

Nama : Dian Permatasari
Umur : 41 Tahun
Alamat : Kota Medan

received_1905078696393891

 

“Gayo Lues Musara”

Ngek ku panang ari bur si atas
Si ngek lepas ari mataku
Oya rupen tanoh asalku
Si mu nemah ate denemku

Gere bang lupe aku ken ijo ni utenmu urum aih si jernihmu
Maju mi maju ko gayoku
Bese umurmu nge tamah naru

Murum mi murum Gayoku
Kati mera mujadi maju
Selamt HUT 15 tanoh asalku
Gelah kase mujadi satu

Nama: Khairul Abdi
Alamt : Desa Kutelintang
Umur : 22

received_1079837505454785

 

“Lima Belas”

Lima belas, benar itu hanya sebuah angka hanya sebatas bilangan
Jikapun itu sekedar angka mungkin masih ada angka yang lebih bernilai
Dan jika itu sebatas bilangan, mungkin masih ada bilangan yang lebih bermakna

Namun, Bagi kami!

Lima belas, menyimpan berjuta bilangan dan beragam makna

Diangka lima belas, terselip lembaran sejarah
Sejarah lahirnya kabupaten tercinta, lima belas tahun yang lalu gayo lues terlahir
Terlahir bukan dari rahim, namun lahir dari tetesan keringat, lahir dari keteguhan hati, dan kekokohan niat, yang bersatu menyatu dalam lingkaran perjuangan

Di angka lima belas jua, terbungkus berbagai harapan
Harapan yang sederhana, tak harus semegah ibu kota

Tak mesti sehebat surabaya, namun sudah tak sanggup lagi hidup ditanah sendiri namun dalam keadaan berkelana

Di angka lima belas, nampak jelas tertancap kokoh sebuah cita-cita
Cita-cita pun amat sederhana tak serumit hentakan tari saman yang menciptakan irama
Cita yang sederhana, bukan cita -cita super, tak sekomplit dan setinggi puncak Leuser

Kami hanya punya satu cita-cita bersama
Cita-cita kami ingin berjalan, yaa berjalan
Berjalan bergandengan dengan hak menuju kemakmuran dan mencapai kesejahteraan

Oleh : Ahmad Amin
Umur : 20 tahun
Pekerjaan : Mahasiswa

received_419067965111125

Loading Facebook Comments ...

Tinggalkan Balasan

Translate »
×