Ini Jenis Alat Rumah Tangga Tradisional Gayo Lues dan Fungsinya

Penulis : Syamsuddin Said*

sumber : insetgalus.com

sumber : insetgalus.com

Guna menunjang kegiatan sehari-hari agar dapat berjalan lancar diperlukan alat-alat rumah tangga yang siap pakai kapan saja diperlukan. Alat-alat tersebut berupa perkakas dapur yang selanjutnya kita sebut benda budaya yang terbuat dari tanah liat, ruas-ruas bambu dan sebagainya.

Benda budaya yang pernah akrab dalam kehidupan masyarakat Gayo Lues tempo doeloe yang terbuat dari tanah liat (tembikar) antara lain ialah:
–    Labu Bulet, tempat air minum yang moncongnya bulat.
–    Labu Kelalang, tempat air minum yang dibuat khas.
–    Belenge, wadah masak sayur.
–    Kuren Tanoh, wadah (periuk) untuk memasak nasi.
–    Pingen, piring tanah.
–    Dalung, sejenis piring makanan yang diberi kaki.
–    Buke, wadah penyimpanan makanan yang sudah masak terutama lauk-pauk.

Mangkuk, Cawan dan lain-lain juga ada yang terbuat dari tanah liat, kemudian berkembang dengan menggunakan material kaleng seperti Capir, Cerek dan lain-lain. Sedangkan benda-benda yang terbuat dari ruas bambu untuk mengmabil dan menyimpan air minum dengan nama yang berbeda-beda diantaranya ialah:
–    Coran, terbuat dari tiga ruas bambu Betung tetapi kulitnya dikikis.
–    Lenge, bentuknya lebih pendek, kulitnya tidak dikikis.
–    Tebok, khusus untuk menampung air sadapan nira, dalam bahasa Gayo disebut Pola.
–    Kitang, terbuat dari ruas bambu yang diameternya lebih kecil dan kulitnya tidak dikikis, tempat menyimpan air minum yang diberi tangkai dari cabangnya sendiri dan disangkutkan pada tali rotan di ruang makan dalam jumlah yang agak banyak.

Air dari dalam kitang, labu maupun kelalang berisi air dingin yang langsung dari sumur atau telege untuk air minum waktu makan tanpa dimasak.  Memang dulu kala masyarakat Gayo terbiasa minum air yang diambil dari sumber air bersih pegunungan, sumur dan mata air yang tidak tercemar limbah rumah tangga atau zat kimia.
–    Bebujangan, tempat air khusus untuk keperluan membasuh kaki ketika akan naik kerumah oleh karena itu letaknya di kanan-kiri tangga rumah panggung.
Dahulu hampir semua rumah di Gayo Lues bentuknya seperti rumah panggung yang dikenal dengan nama Umah Pitu Ruang (rumah tujuh ruangan), dan orang belum mengenal alas kaki, seperti sandal, sepatu dan lain-lain.

Selain dari itu ada lagi benda budaya yang terbuat dari anyaman daun pandan dengan aneka ragam nama serta penggunaan, diantaranya:
–    Alos Kolak, tikar lebar yang polos dan corak warna-warni.
–    Alos Use, tikar ukuran kecil warna-warni.
–    Tape, sumpit kecil tempat beras atau kiriman, ada yang polos dan berwarna.
–    Gedok, sumpit ukuran sedang warna polos biasa digunakan tempat beras atau nasi ketika hajatan.
–    Sentong, karung ukuran kecil tempat beras.
–    Karung, biasa dianyam dua lapis polos maupun berwarna tempat menyimpan beras atau tempat padi yang diangkut dari sawah sewaktu panen.
–    Ipuk, khusus dianyam untuk tempat rokok daun nipah beserta tembakaunya, diberi tutup dan tali yang disulam dengan benang warna-warni.

Sebenarnya masih banyak lagi anyaman dari daun pandan dengan nama dan kegunaan yang beraneka ragam seperti kekani, bebalun, ampang, bebeke dan lain-lain (semua disimpan dalam gulungan tikar disebut santon).

Seiring dengan meningkatnya kemajuan peradaban maka benda-benda budaya juga mengalami perubahan sehingga benda budaya yang disebutkan di atas sudah jarang kita temukan dalam kehidupan sehari-hari, karena telah berganti dengan peralatan modern serta penggunaan yang lebih praktis.

Untuk menanak nasi orang tidak lagi memerlukan periuk, tetapi sudah diganti dengan Rice Cooker, begitu juga untuk memasak air minum sudah ada peralatan listrik seperti Dispenser atau lain-lain dengan segala merk yang dijual dengan harga terjangkau.

Begitu juga untuk menggiling bumbu-bumbu tidak lagi memerlukan batu giling sudah berganti dengan Blender.Bila belanja ke pasar kita tak perlu lagi bawa sumpit, karena sudah ada kantong plastik, karung plastik dan lain-lain. Namun sebagai urang Gayo kita perlu mengenali benda-benda budaya yang pernah menjadi bahagian dari kehidupan para leluhur kita.

Bagaimanapun juga dengan benda-benda sederhana itulah mereka membesarkan kita secara turun-temurun. (sumber: insetgalus.com)

Loading Facebook Comments ...

Tinggalkan Balasan

Translate »
×