Gayo Lues, Tempat Dua Warisan Dunia Dititipkan

Catatan: Yudi Randa (Blogger asal Banda Aceh)
wisata aceh gayo luesKalau ingin menyelamatkan Leuser, selamatkan dulu masyarakat Gayo Lues ini
Tubuhnya yang tambun, membuat suaranya terdengar sedikit berat. Tanpa alas kaki, pria yang kami tunggui selama satu jam lebih ini memberikan sebuah kesimpulan yang mencengangkan. Logat bicaranya, seperti pria Gayo Lues kebanyakan. Sedikit mirip dengan logat batak, becampur melayu, bercampur Aceh. Entahlah, saya tidak terlalu paham perihal tersebut. Pria itu, masih duduk ditengah-tengah di antara saya, manager-manager saya, dan seorang pendamping dari pihak Pemda kabupaten Gayo Lues.
 
“kita ini, hanyalah orang-orang yang tidak dikenal. Masyarakat umum hanya tahu Leuser, tapi tidak mengetahui keberadaan kami. Makanya, dengan semangat yang ada, kami ingin menyampaikan kepada dunia, kalau Leuser adalah gayo, Gayo adalah Leuser.”

wisata aceh gayo lues
jalan menuju Gayo Lues dari kota Takengon yang berkabut

Bulu kuduk saya merinding. Di tengah siang bolong, di dalam sebuah kamar yang cukup luas. Pria tambun itu melanjutkan pembicaraannya. Ada semangat yang menyala terlihat jelas dari bola matanya. Baginya, politik hanyalah sebuah perantara. Untuk tetap bisa menjaga kelestarian Hutan Leuser.  Pria itu, adalah Bupati Kabupaten Gayo Lues, yang bernama ; H. Ibnu Hasyim.

 
Beban yang kami tanggung semakin berat. Tujuan awalnya, saya dan team hanya ingin bersosialisasi mengenai pelaksanaan TARI SAMAN 10001 MANUSIA. Sebuah perhelatan maha besar ini, akan dilaksanakan pada bulan Maret 2017 mendatang. Sebuah event yang akan membuat siapapun yang hadir bertekuk lutut. Menyaksikan salah satu warisan dunia yang telah diakui oleh Unesco beberapa waktu silam, bergerak dengan jumlah yang mengerikan.
wisata aceh gayo lues
rumah pohon di kawasan ginting pineng

Tahun 2014 lalu, Kabupaten Gayo Lues, untuk pertama kalinya, melaksanakan tarian Saman dengan jumlah peserta sebanyak 5005 orang penari. Bisa kamu bayangkan? Saya sendiri sampai terbengong-bengong dibuatnya. Ada 5005 (lima ribu lima ) anak manusia Gayo menarikan tarian kebanggaan mereka secara serentak dan dengan tepukan yang sama. Mereka melantunkan syair puji-pujian kepada sang Pencipta, Junjungan Nabi Muhammad, lalu memberikan petuah-petuah yang salah satu isinya adalah petuah menjaga alam. Apalagi bila bukan Leuser.

 
Jujur saja, ini adalah pertama kalinya saya melangkahkan kaki menuju negeri 1000 bukit. Kabupaten GAYO LUES yang beribukota Kota Blangkejeren, merupakan sebuah mimpi yang (lagi-lagi) menjadi nyata. Jalanan yang menukik tajam ke atas, sembari sesekali melewati hutan pinus yang segar. Lalu disambut dengan kabut serta gulungan awan putih, adalah sebuah sensasi perjalanan yang akan sulit saya lupakan.
wisata aceh gayo lues
kawasan genting pining, Gayo Lues

Kabupaten ini, sebenarnya kabupaten baru. Terbentuk pada tahun 2002 yang merupakan pecahan dari kabupaten Aceh Tenggara. Tuhan, menitipkan dua warisan dunia terhebat pada kabupaten muda ini. Kawasan Ekosistem Leuser, dan Tari Saman Asli Gayo! Keduanya telah mendapatkan pengakuan dunia. Tari saman, sendiri diakui oleh UNESCO pada tahun 2012 lalu. Hingga hari ini, semua orang sering keliru. Saman bisa ditarikan oleh kaum hawa, pada kenyataannya, ini adalah SALAH! Saman tidak boleh ditarikan oleh kaum hawa. Melainkan hanya pria saja. Lalu yang ditarikan oleh kaum hawa selama ini apa? Itu adalah tari Ratoeh Jaroe.

 
Setiap kali, saya berjalan mengelilingi kota Blangkejeren yang jalanannya tak bisa lurus. Setiap itu pula saya tersenyum. Tuhan begitu menyayangi negeri mungil ini. Dengan luas yang tak seberapa, Allah memberikan kekayaan yang luar biasa. Sempat terlintas, bilakah ini menjadi tempat terakhir di bumi. Sungguh! Itu sudah cukup.
Loading Facebook Comments ...

Tinggalkan Balasan

Translate »
×